BARRU - Sebuah potret yang menangkap momen diskusi intens antara Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, dan Wakil Bupati, Abustan, dalam sebuah acara formal belakangan ini menjadi perbincangan.
Di satu sisi, foto tersebut menunjukkan kemesraan birokrasi, namun di sisi lain, publik mulai mempertanyakan, sejauh mana efektivitas diskusi tersebut bagi isi piring nasi rakyat Barru?
Pengamat kebijakan publik menilai, harmonisasi di pucuk pimpinan adalah aset, namun jika hanya berhenti pada tataran seremonial dan diskusi di balik meja empuk, maka hal itu tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara politik.
Meski tampak kompak, Kabupaten Barru masih menghadapi sederet pekerjaan rumah (PR) besar. Mulai dari optimalisasi infrastruktur yang belum merata hingga isu kesejahteraan petani dan nelayan yang seringkali suaranya teredam oleh riuhnya tepuk tangan di ruang-ruang VIP.
"Kita tidak butuh sekadar tontonan pemimpin yang akur di depan kamera. Yang rakyat butuhkan adalah hasil dari bisik-bisik di meja kekuasaan itu menjelma menjadi kebijakan yang pro-rakyat, " ujar salah satu aktivis pemuda di Barru yang enggan disebutkan namanya.
Kritik juga tertuju pada ritme kerja pemerintahan yang dianggap sebagian pihak masih lambat dalam mengeksekusi janji-janji kampanye.
Kehadiran Andi Ina sebagai srikandi politik dan Abustan sebagai teknokrat senior seharusnya mampu menciptakan ledakan inovasi, bukan sekadar menjaga status quo.
Beberapa poin krusial yang kini ditagih publik antara lain:
- Transparansi Anggaran: Sejauh mana APBD menyentuh sektor akar rumput.
- Akses Lapangan Kerja: Minimnya terobosan untuk menekan angka pengangguran pemuda daerah.
- Pelayanan Publik: Masih adanya keluhan mengenai birokrasi yang berbelit di tingkat bawah.
Sesuai dengan fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi, potret kedekatan pimpinan ini harus dikawal dengan kritis.
Jangan sampai kedekatan personal antara Bupati dan Wakil Bupati justru menciptakan zona nyaman yang membuat mereka abai terhadap kritik dari luar.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Barru tetap menaruh harapan besar.
Namun, harapan itu kini disertai dengan sikap kritis yang lebih tajam. Mereka tidak lagi hanya melihat siapa yang duduk di kursi pimpinan, tapi apa yang mereka hasilkan untuk tanah kelahiran.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan dilihat dari seberapa elegan mereka berdiskusi di depan publik, melainkan seberapa sejahtera rakyat yang mereka tinggalkan saat masa jabatan usai.

AHKAM